Black Cloud
Malam ini ngadino harus duduk menyendiri tertunduk lesu merenungi nasibnya yang tak pernah ada baiknya,makan susah,tidur pun susah karena ia sudah lama dtinggal mati orang tuanya dan kini ia sebatang kara.
Kesengsaraannnya menambah ketika setiap orang yang melihatnya merasa jijit ketika melihat wajah ngadino yang jelek, hitam, dan dari badannya tercium bau tak sedap yang sangat menusuk hidung.
Dalam ksendiriannya datanglah narto, yakni satu-satunya orang yang mau berteman dengannya.
Narto : “no…ono opo?”
Ngadino :”ora ono opo-opo karo ngadino?”
Narto :”terus kenapa kok malem-malem menyendiri?
pakek mukanya kusut gitu!”
Ngadino :”yah…..tmbah satu orang lagi yang menghinaku,
mukaku kan udah kusut to,masih dikatain juga..”(pasrah ngadino menanggapi perkataan narto)
Narto :”hehehehe,,udah sadar tho?”
Ngadino :”maksud loe?????????”
Narto :”ets………..bercanda brow,makanya jngan kyak gitu dong!emangnya ada apa?cerita dong sama aku!”
Ngadino :”hidupku to!”
Narto :”kenapa dengan hidupmu?”
Ngadino :”tidur susah,makan pa lagi,dimana-mana orang akan memegang hidungnya setiap dekat denganku,apa idung mereka pada keseleo ya?”(ngadino sedikit nyengir)”kapan slesenya sih hidup kyak gne?mending gue mati aja sekalian.. “
Narto :”wah………………monggo!!!!!”
Ngadino :”hehehehhe………….emo,wedi”
Narto :”aku punya solusi buat kamu no!”
Ngadino :”wah,jelas.e enak iki…………..opo?”
Narto :”wani piro?”gagagagagagagag
Ngadino :”wah……elu bercanda mulu,emerjensi ini to”
Narto :”ok…ok…tapi ini sulit no,taruhnnya nyawa lho”
Ngadino :”iya,ora opo-opo”
Wajah mereka berdua yang awalnya penuh twa berubah menjadi serius seketika.
Narto :”banyak orang yang pengen ngedapetinnya,tapi gagal ditengah ritualnya. Kamu yakin mau?????????????”
Ngadino :”IYA….gimana caranya?”(tanya ngadino tk sabar)
Narto :”begini…kamu harus bertapa di gunung PENTUNG,gak lama kok!Cuma satu minggu aja!”
Ngadino :”kalau Cuma kayak gitu aku sih bisa”
Narto :”tapi yang bikin susah,kamu tidak boleh kentut selama bertapa”
Ngadino :”waduh?????abo to bokongku”(dengan nada kaget)”tapi gak papa wes,pkoknya hidupku bisa lebih baik”
Narto :”nanti setelah 1 minggu kamu akan didatangi penghuni gunung itu dan akan mengabulkan segala permintanmu”
Ngadino :”y owes,aku berangkat sekarang….”
Narto :”skarang to?”
Ngadino :”gak,tgl 30 pebruari………yo sekarang lah,kpn lagi”
Narto :”ywdah,ati2…………tak doain dari sini”
Ngadino :”sip………….syang sek rek?????”
Narto :”halah”(sambil mendorong pipi ngadino yang disodorkan)”nang budal….!”
Ngadino :”hahahahaha…..yo wes aku berangkat”
Narto :”yo…ati2”
Ngadino pun langsung menuju tempat yang dikatakan narto,yakni gunung pentung
Sesampainya disana ia langsung melakukan tapabrata. Dalam tapabratanya dia menahan sekuat tenaga apabila akan kentut, terus seperti itu sampai tapabratanya selesai.
Satu minggu pun berlalu, dia ditemui makhluq penjaga gunung seperti yang dikatakan sahabatnya narto.
Jin :”ada apa anak muda?”
Ngadino :”siapa kamu?apakah kamu penjaga gunung ini?”
Jin :”ya…………benar,aku penjaga tempat ini. Kamu pasti menginginkan kabahagiaan dunia kan?????????
Ngadino :”kok tau?”
Jin :”kan tadi abis baca sekenario”gagagagagaggaga. Ini untuk kamu!(sambil memberikan kain hitam)
Apabila kamu memakai kain ini,kamu akan menjadi labih baik dari sebelumnya.
Ngadino :”benarkah?”
Jin :”he.em”(sambil menganggukkan kepala)
“Sekarang lebih baik kamu pulang, dan nikmatilah kebahagiaanmu”
Ngadino :”baik lah terima kasih”(sambil meninggalkan jin)
Jin :”he…………..mau kemana?”
Ngadino :”katanya tadi suruh pulang?”
Jin :”iya, tapi bayar dulu!”
Ngadino :”dasar”(gerutu ngadino sambil mengeluarkan beberapa lembar uang)
Sebelum pulang dia terhenti sejenak,dia merasa kurang enak badan karena selama satu minggu dia belum buang angin.”kayaknnya tempat ini cocok”(sambil menoleh kesegala arah,memastikan bahwa tempat yang dia pilih benar-benar aman)”aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh………..akhirnya bias keluar juga”(merasa bahagia karena dapat melepaskan hasratnya)
Akhirnya ngadino pulang dengan menari-nari. Terus menari-nari ditempat dimana dia sering dihina. Dan setiap orang yang melewatinya merasa heran dan takjub akan perubahan yang dialami ngadino yang begitu cepat. Ngadino pun datang menghampiri narto.
Ngadino :”aku berhasil to…………..lihat! aku sekarang berubah menjadi lebih tampan dan bau ku pun tak setengik dahulu.”
Narto :”iya no,kamu kelihatan cakep sekarang. Memananya kamu dikasih apa ama penjaga gunung itu?”
Ngadino :”ini to..(sambil menunjukkan kain hitam pemberian penunggu tadi pada narto)”
Narto :”buat apa ini no?ini kain sakti ya?”
Ngadino :”iya to,ini kain sakti, apabila aku memakai kain ini aku akan menjadi tampan dalam seketika.”
Narto :”wau……………………..hebat juga ya.!!..setelah tampan kayak gini apa yang mau kamu perbuat no?”
Ngadino :”iya, apa ya?”(bingung ngadino)
Narto :”teraktir aku aja no,ya……………………itung-itung amal kan.!!”
Ngadino :”gampang to, kamu mau makan apa? Nasi goreng? Sate? Bebek goreng?”
Narto :”beneran no?”
Ngadino :”iya, tapi bayar dewe”
Narto :”podo wae no nek ngunu”
Ngadino :”gagagagagaggagagaag,……………….eh,ngompol-ngompol gimana kabarnya si surti?”
Narto :”wah………………..traktir dulu baru tak kasih info.”
Ngadino :”gampang! Kasih tau dulu,nanti tak traktir.!”
Narto :”beneran ya?”
Ngadino :”iya bawel”
Narto :”surti baru putus sama pacarnya no, sekarang dia jomblo.”
Ngadino :”wah….cocok, ada kesempatan nih”
Narto :”apanya?”
Ngadino :”kamu kan tau sendiri kalau aku dari dulu suka sama dia, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan hati pujaan hatiku.”
Narto :”wuih,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,ngomongmu bahasa Koran no.”
Ngadino :”gagagaggaag…………………………yowes ayo!”
Narto :”nag ndi?”
Ngadino :”katanya tadi mau makan?”
Narto :”yowes ayo, weteng ku wes luwe iki”
Akhirnya mereka pun pergi menuju warung makan.
Paginya ngadino pun datang kerumah surti, dan tanpa menunggu lama mereka pun resmi berpacaran. Entah setan apa yang merasuki surti sehingga dia langsung menerima ngadino.
lama-lama timbullah rasa iri pada hati narto melihat perubahan temannya ngadino yang diam-diam juga naksir pada surti. Ia pun berencana untuk mencuri kain hitam yang dimiliki ngadino. Ia menunggu waktu yang tepat untuk mencuri kain keramat itu.
Suatu malam ngadino tertidur pulas dirumahnya, narto pun mengetahui keadaan ini dan ia merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mencuri kain hitam itu. Dengan hati-hati dia mengambil kain tersebut. Tak lama kemudian kain tersebut sudah berpindah tangan. Narto pun pulang dengan bahagia.
Keesokan harinya ngadino amat kaget karena melihat kain hitamnya hilang. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang wanita berjalan dengan seorang pria. Mereka berdua adalah narto dan surti. Hati ngadino seperti terbakar melihat temannya sendiri sedang begandengan dengan wanita yang ia suka.
“kurang ajur si narto,berani-beraninya dia mencuri kain hitamku dan merebut pujaan hatiku, akan kurebut kembali apa yang sudah menjadi jerih payahku….tunggu saja narto, aku pasti akan membalasmu”
Satu bulan kemudian narto menikahi surti, dan narto diberi amanat oleh ayah surti untuk meneruskan usahanya. Dan kini narto semakin kaya dan semakin membuat hati ngadino terbakar. Tapi ngadino tak mau gegabah, karena yang dia hadapi adalah teman baiknya sendiri. Dia masih punya rasa kasihan padanya.
Akhirnya dia memutuskan untuk datang dan meminta kembali kainnya baik-baik kepada temannya narto.
Narto :”ada apa kamu datang kesini?”
Ngadino :”aku datang untuk mengambil kainku to”
Narto :”kamu mau ini?”(sambil menodorkan kain putih pada ngadino)”enak saja, langkahi dulu mayatku”
Ngadino :”kan kamu belum mati to!”
Narto :”ow iya………………….terus gimana?”
Ngadino :”tak matiin mau gak?”
Narto :”yo emo”
Ngadino :”tapi sekenarionya kan gitu to”
Narto :”ow iya, yaudah aku mau, tapi jangan sakit-sakit ya!”
Ngadino :”gak, kayak digigit semut aja kok”
Akhirnya narto mati ditangan ngadino,
Setelah kejadian itu ngadino merasa bersalah pada dirinya sendiri, dia baru sadar bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kesalahan yang sangat besar, dia telah mebunuh satu-satunya sahabat yang selalu ada buatnya disaat dia membutuhkan seorang sahabat.
“semua ini gara-gara kain jahanam ini, apabila aku tidak mempunyai kain ini pasti aku takkan kehilangan seorang sahabat yang aku sayangi………………..lebih baik aku membuang kain ini, ya….aku akan membuang kain ini.”
Sebelum ngadino membuang kain hitam tersebut, muncullah penjaga gunung yang dulu pernah memberikan kain hitam padanya.
“jangan kau buang kain itu, belinya mahal lho………….gagagagagagaa Dasar manusia serakah,! Kau tak mau menerima keadaanmu yang sesungguhnya, kau terlalu tergiur dengan hiasan duniawi, terimalah apa yang sudah diberika Tuhanmu kepadamu. Dan yakin lah bahwa apa yang telah diberikan tuhanmu adalah suatu anugerah yang tidak ternilai harganya.”
“aku menyesal………………..aku minta maaf”(tangis ngadino) dan sekarang apa yang harus aku lakukan?”
“Pergilah ke barat! Sesampainya disana kau akan bertemu dengan orang yang akan menerima keadaanmu."
Akhirnya ngadino pergi ke barat mengikuti petunjuk penjaga gunung dan berharap akan menemukan orang yang dapat menggantikan narto sahabatnya.
TAMAT
Kain hitam kini telah banyak dimiliki dan dicari kesana kemari.
Suka dan duka pun akan timbul karenanya.
Kau akan mencari apabila kau tak memilikinya.
Tau kah kau apa kain hitam?
“Seolah-olah manusia jadi budaknya”